Ketika saya SD dan SMP dulu tidak pernah ada keributan dan ketakutan yang begitu mendalam terhadap pelaksanaan UNAS (dulu namanya EBTANAS). Saya dan teman-teman seperjuangan tidak terlalu khawatir tehadap ujian tersebut bahkan hasilnya sangat memuaskan (nilainya rata-rata diatas 6,5) walaupun kita berada di sekolah pinggiran (didesa pula), mengapa? Hal ini dikarenakan ujian kita anggap biasa dan merupakan kewajiban setelah satu periode tertentu (dulu namanya catur wulan/CAWU) kita belajar pasti setelah satu CAWU terlampaui akan diadakan Test Hasil Belajar/THB (semacam ujian yang dibuat oleh Depdikbud Kabupaten).
Oleh karena itu sebenarnya kisruh UNAS sejak zaman reformasi merupakan kesalahan bersama bangsa, mengapa?
1. Pemerintah
Pemerintah dalam hal ini DEPDIKNAS terlalu sering gonta-ganti kurikulum yang pasti berkorelasi positif terhadap perubahan nama Sekolah, Ujian dan lain-lain sehingga masalah yang tadinya sepele menjadi besar dikarenakan sosialisasi yang tidak optimal dalam menjelaskan masalah ketingkat paling bawah
2. Media
Dengan adanya kebebasan pers yang sangat bebas dan bertanggung jawab informasi yang sehasurnya bisa menjadi hal yang sangat booming dan begitu menakutkan. Apa itu? Dalam hal ini tentu saja Ujian Nasional. Zaman dulu tanpa berita yang macam-macam pelaksanaan EBTANAS sukses dan tidak ada masalah bahkan nilai siswa cenderung diatas rata-rata normal (diatas 5) lalu ketika ada pemberitaan dari media bahwa kriteria kelulusan siswa minimal Nilai UNAS tidak boleh dibawah limit tertentu banyak sekali yang meributkan hal ini, mengapa? Jawabannya karena masyarakat belum siap terhadap keterbukaan.
3. Sekolah, guru dan siswa
Dengan booming kriteria kelulusan dengan limit tertentu tersebut banyak sekali sekolah dan para guru di negeri ini yang panik. Mereka beramai-ramai mengadakan kelas khusus untuk mempersiapkan siswanya menghadapi ujian, padahal sebelum ada perubahan nama dari EBTANAS ke UN ataupun UNAS sekolah menganggap permasalahan ini sebagai hal yang wajar dalam proses pendidikan sehingga mereka tidak perlu melakukan persiapan-persiapan khusus yang malah membebani psikologi siswa-siswanya sehingga otak kanan siswa terlalu dituntut dan terbebani dengan beban untuk mengikuti Ujian Nasional. Padahal otak juga butuh istirahat untuk menyerap ilmu yang diberikan ingat pendidikan bukan berorientasi Soal !!!!
Pada intinya
1. Biarlah pemerintah berkreasi memikirkan kurikulum yang berkompeten
2. Jangan memperbesar masalah yang kecil
3. Pendidikan bukan berorientasi soal tapi lebih pada ilmu, pengetahuan dan keahlian
Abu Bakar , Mahasiswa Teknik Industri Universitas Trunojoyo,
(E-mail: abu.1637@gmail.com)
Bangkalan–Madura, 69162
Post new comment