anak jalanan yang menjadi pengemis, pengamen, pengasong, dan lain sebagainya sangat mudah dijumpai di kota besar seperti Jakarta. Begitu banyak faktor yang menjadikan mereka sebagai pekerja jalanan yang keras dan beresiko, seperti membantu ekonomi keluarga, menjadi korban penculikan, dipaksa bekerja orang lain, dan lain sebagainya.
Seharusnya yang mereka lakukan adalah belajar dan bermain seperti layaknya anak-anak seumur mereka tanpa harus mencari uang untuk dapat tetap bertahan hidup. Masa depan Bangsa dan Negara Indonesia terletak di tangan generasi penerus. Kualitas SDM yang rendah sangat berpengaruh pada kondisi negara kita tercinta ini baik saat ini maupun di masa yang akan datang.
Salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak kecil yang bekerja sebagai pengamen cilik, pedagang asongan, pengemis, dan lain sebagainya di jalanan adalah dengan tidak memberi mereka uang serta memberi tahu orang lain untuk tidak memberi juga walaupun merasa sangat kasihan.
Apabila tidak ada satu orang pun yang memberi mereka uang, maka anak-anak jalanan tersebut tidak akan ada. Alangkah lebih baik jika uang tersebut kita kumpulkan untuk membantu biaya pendidikan mereka daripada kita membantu biaya foya-foya preman yang mempekerjapaksa anak di bawah umur, biaya hidup orangtua yang memaksa anaknya bekerja di jalan sedangkan mereka hanya melihat dari jauh, dan lain sebagainya. Jika mereka terbiasa mendapat uang mudah dari bekerja di jalan, maka mereka setelah besar / dewasa kelak akan tetap menjadi pekerja jalanan.
- Musnahkan Anak Jalanan, Ciptakan Anak Yang Berguna Bagi Bangsa Dan Negara -
in between...
agak susah ya buat ga kasih uang ke anak2 kecil. tergantung juga sih. soalnya ya kadang jadi ada rasa iba dan kalo udah ada rasa iba, ya kasih uang 100 rupiah. ga tau deh itu ngerusak mental mereka juga atao membantu yah. kemaren ini saya liat ada anak kecil sekali yang jualan coet yang dibuat dari batu, dipanggul semuanya dengan gagang bambu. itu kan berat banget!??!! saya sendiri ajah sangsi saya bisa angkat dan panggul itu coet2 (disusun dari yang besar sampe yang kecil pula...) anak2 itu teriak2: coet..coett....coetnya mba????!!! saya sering banget liat mereka sekarang di tiap setopan. ya saya kan ga butuh coet, jadi ya saya ga beli. tapi kemaren saking ibanya, saya kasih ajah uang 500 karena anaknya masih kecil sekali dan kadang saya kasih permen saja buat "menghibur hati si anak" karena kasian...
menurut saya sih, apa tidak mungkin ya pemerintah memberikan pendidikan gratis khusus untuk anak2 jalanan ini? mereka memang harusnya ada di bangku sekolah. saya kadang lihat berita dan sepertinya banyak sekali juga ya biaya2 yang bisa dipangkas dan disisihkan buat pendidikan anak2 jalanan? gimana mereka bisa pintar kalo tiap hari hanya teriak: coettttt coettttttt......!!! coetnya mba..... uangnya buat sekolah, buku2 pelajaran.... tapi ternyata mereka TIDAK sekolah????????????????
dilema...
susah juga kalau tidak memberi, emang namanya manusia pasti ada rasa iba.tapi aku setuju mendingan duit2 itu (yang sering kita bagi ke anak jalanan, pengemis dan pengamen) dikumpul untuk membantu tetangga kita yang gak mampu untuk sekolah anaknya. itu jauh lebih berharga.
yang jadi masalah sekarang ini anak yatim, orang miskin dan anak terlantar tidak lagi dipelihara oleh negara.....! makanya pengemis, pengamen, anak jalanan itu semakin banyak...!!!!
SOLUSI (BERHARAP)
Emang itu sangat dilema..Tp kita liat manfaatnya,apakah bermanfaat bagi mereka?..Soalnya saya pernah dapat artikel penelitian tentang anak jalanan..Artikel itu menjelaskan bahwa memberi uang kepada anak jalanan itu sangat tidak bermanfaat karena uang yg kita kasih digunakan oleh mereka untuk : 1.) Menyetor kepada bos mereka (preman setempat) 2.) Jajan makanan yg tidak bergizi 3.) Bermain game station (Main/menyewa Playstation)..Itu yg dikatakan artikel peneiltian tersebut..Dan solusi dari artikel penelitian tersebut adalah memberikan minuman atau makanan yg bergizi (contoh :susu kemasan jadi atau biskut yg mengandung gizi) agar memberikan suatu manfaat buat mereka..
Atau menurut saya..kalo kita benar-benar sangat memperhatikan anak-anak fakir miskin atau yatim piatu dengan cara menyalurkan bantuan kita kepada lembaga yg resmi menangani hal tersebut seperti : Dompet Dhuafa atau Badan Amal Zakat Nasional (BAZNAS) dll..Mari kita salurkan 2,5% persen penghasilan kita,mudah2an bermanfaat buat mereka yg membutuhkan..
PS :
Kunjungi WWW.BAZNAS.CO.ID
Solusi (Beharap)
Emang itu sangat dilema..Tapi kita liat manfaatnya,apakah bermanfaat bagi mereka?..Soalnya saya pernah dapat artikel penelitian tentang anak jalanan..Artikel penelitian itu menjelaskan bahwa memberi uang kepada anak jalanan itu sangat tidak bermanfaat karena uang yg kita kasih digunakan oleh mereka untuk : 1.) Menyetor kepada bos mereka (preman setempat) 2.) Jajan makanan yg tidak bergizi 3.) Bermain game station (Main/menyewa Playstation)..Itu yg dikatakan artikel penelitian tersebut..Dan solusi dari artikel penelitian tersebut adalah memberikan minuman atau makanan yg bergizi (contoh :susu kemasan jadi atau biskut yg mengandung gizi) agar memberikan suatu manfaat buat mereka..
Atau menurut saya..kalo kita benar-benar sangat memperhatikan anak-anak fakir miskin atau yatim piatu mungkin dengan cara menyalurkan bantuan kita kepada lembaga yg resmi menangani hal tersebut seperti : Dompet Dhuafa atau Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dll..Mari kita salurkan 2,5% persen penghasilan kita,mudah2an bermanfaat buat mereka yg membutuhkan..
PS :
Kunjungi WWW.BAZNAS.OR.ID
susah juga...
susah siihh memang walaupun pemerintah memberikan pendidikan gratis namun tidak semua dari mereka mau untuk kembali ke sekolah. Kehidupan mereka yang sudah terbiasa di jalanan, mendapatkan uang dengan cara mudah (meminta) membuat mereka merasa nyaman. Di sisi lain mereka perlu uang untuk hidup... dengan kata lain lebih baik mencari uang drpada sekolah. bagi yang merasa sudah terbiasa dengan hal seperti mereka akan enggan untuk sekolah walaupun pemerintah telah memberikan pendidikan gratis.
Sperti halnya talk show yang pernah saya saksikan dimana disana ada beberapa anak jalanan sebagai topik yang di bahas saat itu. Saya merasa kaget atas jawaban mereka ketika mereka ditanya "lebih enak mana sekolah ato di jalanan?"
sebagian dari mereka mngatakan "jalanan" dengan alasan lebih mudah mendapatkan uang, lagipula jika sekolah hanya membuang waktu dan tidak menghasilkan uang.... lagipula jika mereka sekolah berapa uang yang telah mereka lewatkan, jika di bandingkan mereka di jalanan saat itu.
jadi sebagian anak jalanan mngkin berpikir uang lebih perlu dibandingkan sekolah (walapun tdk smw anak jalanan sprti itu) tp ingat sebagian dari mereka di asuh oleh preman2 jalanan karena tidak memiliki orang tua ( atopun orang tua mereka sdah tidak mampu lagi) sehingga sejak kecil ketika merasakan kehidupan jalanan pikiran mereka telah di doktrin (oleh orang2 tsb) untuk selalu mncari uang di jalanan, sehingga hanya uang dan bagaimana mendapatkan uang lebih banyak lagi di jalanan.
kita telah merdeka lebih dari 60 tahun namun kebodohan dan kemiskinan masih menjajah negeri ini..
kapan idonesia bisa terbebas dari penjajahan di atas....?????
Masalah kompleks kehidupan para urban
Susah sih.. Orang tua mrk jg sjk menginjakkan kaki di kota, kerjanya yg spt itu, gampang & tdk cape! Celakanya, ortu mrk jg hampir ga ada yg pduli akan pendidikn anak2 tsb. Mrk malah mberi contoh bgmn mcari uang dg cara yg paling mudah shg mrk mrasa tdk perlu memikirkn sekolah. Krn yg penting mrk dpt duit! Bgmn anak2 mrk punya motivasi utk belajar??? Jd kt bs berbuat apa dong..?
mengemis bukan pilihan
Gue rasa, di dunia ini, ga ada satupun orang yang mau bercita-cita jadi pengemis..? Coba deh inget2.. Waktu kite kita masih kecil, trus ditanya sama guru, mau jadi apa, jawabannya pasti ; jadi orang yang berguna 50 %, jadi artis 25 %, jadi presiden 5 %, jadi guru yang nanya 1 %, jadi tukang becak dll 10 % dan sisanya geleng kepala, bilang que serra serra aje deh bu.. (Alias, mau jadi ape kek bu, yang penting ngetop) Hehehe..
Kalo sampe ada yang jawab jadi pengemis, pasti langsung di bawa ke rumah sakit jiwa, disuruh berobat sampe sembuh baru sekolah lagi.. Tul ngga..? Hehehe... Jadi, yang namanya mengemis itu orang terpaksa loh mbak.. Orang yang udah terpaksa itu orang susah, dan orang susah itu wajib kita tolong. Si Kholil Gibran pernah ngomong gini sama eke, "siapakah kamu, yang merasa pantas untuk mengadili orang itu layak untuk menerima atau tidak, sementara Sang Pencipta sendiri tidak pernah membeda-bedakan untuk siapa Ia memberi nafas kehidupan.."
Badan pengatur zakat atau organisasi lain (yang kadang suka "bocor") niatnya sih memang baik. Kalo disalurkan lewat mereka, maka rencananya penyaluran sedekah bakal jadi lebih merata dan tepat sasaran. Tapi perasaan, selama gue hidup dan apa yang gue alamin, rencana manusia itu lebih banyak ga tepatnya. Lebih tepat rencana Tuhan. Waktu kita ketemu sama pengemis, dan pas kebetulan di kantong ada uang seribu atau goceng atau ceban atau bahkan gocapan nganggur, gues what..? Kira-kira rencana siape tuh..?
Kalo gue sih, daripada mikir ribet-ribet, mending kasih aja deh (tapi yang seribuan aja.. Hehehe) . Abis itu jalan lagi, trus kerja, cari duit, mudah-mudahan dapet rejeki lebih buat nyumbang sama pengemis uang seribuan lagi.. Kalo ngga dapet rejeki, ya terpaksa kita ikut ngemis juga deh.. Hehehe..
Selama kita masih diberi kesempatan beramal, ayo terus beramal..! Hidup amal..!
selektif
Kalau orang yang perlu dibantu adalah orang tua atau cacat (mohon maaf) saya pikir tidak masalah untuk memberi sekedarnya. Namun untuk anak-anak kecil jalanan memberi pun tidak akan menjadi solusi. Sebab uang yang kita berikan justru akan masuk ke preman-preman yang memperkerjakan mereka. Jika kita mencoba bersikap tega untuk tidak memberi saya yakin dengan sendirinya kuantitas para pengamen atau pengemis kecil itu pun akan berkurang atau hilang dengan sendirinya. Sebaliknya bila dengan alasan iba kita terus memberi, ini akan memberi efek ketergantungan dan membuka peluang bagi para pengamen atau pengemis anak-anak tadi untuk terus beroperasi. Sebab mereka berpikir masih ada kesempatan untuk mengumpulkan uang.
Lalu saya juga masih merasa kurang sreg dengan keberadaa pengamen-pengamen muda. Mereka sehat, segar, apa tidak ada pekerjaan lain? Sebab keberadaan mereka lebih banyak mengganggu dan tidak memberikan keuntungan sama sekali.
http://lamida.wordpress.com/2008/09/08/negara-pengamen/
Post new comment