Wakil presiden Yusuf Kalla dalam pernyataannya mengenai regulasi pembatasan BBM beberapa waktu lalu menyatakan bahwa kenaikan harga BBM diusahakan agar tidak berdampak pada rakyat miskin (menurut wapres klasifikasi orang miskin itu tukang ojek, pedagang dll) dan dengan nada menyindir orang-orang kaya untuk tidak memakai bensin berkadar oktan 88 terutama di kawasan mewah, jalan tol dll, yang tampaknya sangat bagus dan tidak akan menimbulkan efek beruntun!
Benarkah demikian? Ternyata tidak, pemerintah selama ini belum pernah belajar dari pengalaman. Mereka selalu saja menyindir orang–orang kaya bahkan sering sekali mereka disalahkan demi dalih keadilan. Padahal seluruh warga negara menurut hukum yang berlaku dinegara ini menyatakan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama dimata hukum. Lalu kenapa untuk masalah hak subsidi, terutama BBM, untuk setiap kenaikan selalu saja memakai alasan demi keadilan! Padahal saat Ini harga “petramax+” sudah mengikuti harga pasar dan BBM industri juga mengikuti harga pasar, lalu mengapa pemerintah masih berdalih demi keadilan. Keadilan yang mana ????
Coba temen-temen mahasiswa bandingkan dengan harga BBM di negara sebelah (Malaysia)!!!
Padahal kalau mau jujur di Indonesia menurut yang saya pelajari dari SD sampai di bangku kuliah ini tidak pernah ada tingkatan atau segmentasi masyarakat, lalu kenapa pemerintah selalu menyalahkan orang kaya! Terlebih kalau mau jujur sebenarnya golongan orang kaya (menurut versi pemerintah) jika mau dihitung kewajiban yang dilaksanakan dan dibayarkan pada negara cukup besar!
Sebagai contoh orang kaya diwajibkan memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) yang wajib dibayar, seringkali memakai fasilitas umum yang dikenai pajak, memakai kendaraan yang dikenai pajak tiap tahun, makan kena pajak, punya pembantu kena pajak, mau berwisata kena pajak pula. Bahkan tidak sering orang kaya (lagi-lagi menurut pemerintah) dijadikan sasaran empuk oleh peminta sumbangan sebagai donatur, Target kejahatan, pemerasan oleh oknum keamanan dan lain sebagainya. Lalu sebenarnya kapan mereka mendapatkan hak–haknya setelah kewajibannya yang dilaksanakan?
Bahkan kemarin Wakil Presiden Yusuf Kalla membuat pernyataan yang menyindir demo menentang kenaikan BBM yang direncanakan bulan Juni mendatang, yang isinya kurang lebih “…………….yang menggunakan premium itu adalah yang memakai mobil mercy, dan mobil-mobil mewah Jadi Jika mahasiswa demo menentang kenaikan harga BBM berarti menghalangi rejeki orang miskin (Rejeki = BLT +), (TVRI Berita jam 19.00, tanggal 7-5-2008)
Perlu diketahui BLT+ menurut WAPRES kita adalah bantuan langsung tunai senilai Rp 100.000,- dan Sembako setiap bulan. Lalu apakah uang 100 ribu cukup untuk menutupi kebutuhan satu bulan dengan berbagai kenaikan biaya hidup?
Contoh masyarakat Bangkalan:
Pekerjaan nelayan
Bantuan langsung : Rp 100 ribu
Melalui efek domino kenaikan harga BBM bisa dipastikan biaya transportasi 99% ikut naik yang pastinya akan mendongkrak biaya hidup masyarakat. ALIH-ALIH DEMI KEADILAN, HAL INI HANYA AKAN MENAMBAH BEBAN HIDUP RAKYAT, MENGAPA?
1. Beras dan kebutuhan pokok lain pasti ikut naik
2. Bahan Bakar untuk perahu tidak terjangkau
3. Uang saku untuk anak tidak ada
4. biaya operasional pasti naik (jaring dll)
5. DLL
Program BLT paling lama hanya 1 tahun,
ingat kita sengsara selamanya!!!!!!!!!!!
Lalu dimanakah kemerdekaan Indonesia ?????
...
"berBagI wAlaU haNYa sebuTir"
kAlO saya sih, dI baGi iLmU Jg DaH seneng kOk.....
------------------
apalagi UANG ++++
------------------
EmM,.
Kenapa kita harus selalu tergantung dgn BBM (minyak bumi),.kan masih ada energi alternativ yg bisa qt gunakan
Saya pernah lihat berita di tv, kalo sekarang orang2 (indonesia) sedang giat2ny mencari inovasi baru sbg alternatif bahan bakar kendaraan bermotor, mulai dari motor brbhan bkar gas lpg (ckup brbhaya), bhan bkar air' yg dcmpur dgn sdkit larutan (motor bisa jln)
Ato yg saya heran
dlu pemerintah, terlihat giat sekali ketika mempublikasikan bahan bkar kendaraan biodiesel (dr minyak buah jarak),.namun sampai skr belum terasakan manfaatnya oleh masyarakat
Saya setuju kita tidak bisa memeras orang kaya secara berlebihan demi kpentingan orang miskin,.
Mereka juga punya hak untuk menikmati hasil kerja keras mreka demi mendptkn uang
Saya lebih setuju memotong gaji pejabat pemerintah untuk rakyat kecil, setiap thun mrk minta kenaikan gaji tp ga ada hasilnya untuk rakyat (terutama golongan orang miskin)
ato alternatif lain,,galakan pendidikan,,kita ciptakan pemuda-pemudi yg bisa mengmbangkan inovasi2 baru yg berguna bagi bangsa,,hidari ketergantungan pd minyak bumi,,masi ada minyak jarak, minyak sawit yg bisa qt gunakan sbg bhan bkar,,ingat minyak bumi pasti habis,,wajar saja kalo hargany terus melunjak,,krn itu sudah hukum ekonomi
sudah wktunya kita semua beralih kpd bhan bkr alternatif,,jika terus tergantung dgn minyak bumi,,saya sangat yakin hidup manusia akan semakin sengsara
Negara kita punya kebun sawit yg luas sampai ribuan hektar,,dan mungkin yg terluas di dunia knp tidak kita manfaatkan SDA ini
Peran para ilmuwan dan pemerintah sangat di butuhkan saat ini,,
Semua bangsa sudah seharusnya memikirkan REVOLUSI...!!BAHAN BAKAR
Wueleeeh..!
Mau ngomong sampe kemana aja kalo otaknya cuma duit,moral juga sempit!Kuncinya cuma 1
TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT TOBAT .
sengsara selamanya? gk kebalik?
hmm banyak sekali tulisan2 kontra kenaikan bbm yang saya baca selalu hanya melihat keadaan saat ini tanpa melihat ke depan. mereka seringkali menyerukan betapa kenaikan harga bbm memberatkan masyarakat dan akan membuat negara ini jadi tambah ancur. tapi coba kita berpikir panjang dan melihat ke depan, apa sih sebenarnya tujuan akhir dari kenaikan bbm dan dampak jangka panjang bila harga bbm tidak dinaikkan dan menambah subsidi untuk bbm. pertama kita lihat tujuan akhir dari kenaikan bbm, dengan menaikkan harga bbm -dimana sebenarnya kalimat ini kurang tepat karena yang menaikkan harga bbm adalah pasar internasional, dan kita (indonesia) hanya menyesuaikan dengan tarif dunia- kita bisa menggunakan apbn untuk hal hal lain yang lebih penting daripada subsidi bbm seperti membayar hutang luar negeri. dan kalau hutang luar negeri sudah lunas bisa kita gunakan untuk dana pendidikan, dsbnya. nah disini kita lanjut ke yang kedua yaitu dampak jangka panjang kalau tidak dinaikkan. pertama mulai dari apbn yang dipotong sebagian besar untuk subsidi bbm. sisanya habis dipakai untuk 'maintenance' negara kita seperti gaji pegawai negeri, perawatan fasilitas umum, memberi makan tentara2 dan tahanan2 penjara, dsbnya. sedangkan hutang luar negeri tidak bisa dicicil dan ingat, hutang luar negeri bukan tanpa bunga, jadi kalau dibiarkan akan semakin membengkak. jatuh deadline (batas akhir waktu pembayaran), apa yang terjadi? ada yang tau? selanjutnya pendidikan semakin tertinggal dengan perkembangan pengetahuan dunia, semakin kita terlihat seperti manusia purba dibandingkan manusia2 lain di belahan bumi yang lain. apa itu yang kalian inginkan? memang, kalau bbm sekarang dinaikkan, kita yang menjadi korban, tapi kalau tidak dinaikkan siapa yang jadi korban? anak kita dan cucu kita dan cicit kita dan anak cicit kita dstnya. sekarang terserah kalian, mau jadi seseorang yang egois? atau seseorang yang ingin cucu kita berada dalam bangsa yang lebih berderajat dan bermartabat di mata dunia?
Post new comment