Skip directly to content

Cinta Untuk Lauren! - Cerpen / Novel Buah Karya Siti Hasanah

on Sun, 13/06/2010 - 10:29

Namaku Lauren. Di sekolah, aku termasuk salah satu siswa berprestasi, baik dikelas maupun di luar kelas. OSIS contohnya, saat OSIS mengadakan lomba cerita remaja, aku berhasil meraih juara satu.

Kepintaran dan prestasi yang kuraih membuatku buta. Setelah beberapa kali mendapat prestasi, aku mulai suka bolos dan malas belajar. Apalagi sikap kedua orang tuaku yang sibuk dengan kerjaan di kantor, membuat aku semakin bebas.

Pertama, aku menolak untuk bolos saat Monic dan Anggi mengajaku pergi melihat pameran yang berada tak jauh dari kampungku. Namun, setelah beberapa kali menolak, aku mulai tergiur dan ingin mencobanya. Sampai terulang-ulang.

Nilaiku turun drastic. Prestasi yang biasa kuraih mulai tergeser dan beralih posisi ke tangan Susi, siswa yang dianggap cupu disekolah. Aku merasa jeoluse. Hatiku tak rela dengan apa yang Susi dapatkan. Aku pun mencoba sadar, aku memang jarang belajar! Pantas saja prestasiku menurun! Gumamku. Saat aku mulai menyadari sikapku, kedua temanku malah mengejeku dan berniat mengeluarkan aku dari gang jika aku tak best friend lagi dengan mereka. Aku tak ingin hal itu terjadi, akhirnya aku kembali gabung dengan mereka.

Orang tuaku masih sama. Mereka tak pernah lagi memberikan perhatiannya untukku. Hanya kerjaaan yang ada di otak mereka. Pernah aku meminta Ayah untuk dating kesekolah untuk menghadiri rapat orang tua, tapi ayah malah menolaknya. Dengan alasan kerjaan. Dan yang lebih parahnya lagi, Ayah menyuruh tukang kebunku untuk menggantikan posisinya, dating kesekolah.

Sikap Ayahku makin membuatku tak betah dirumah. Berada di rumah terasa sumpek dan sesak bagiku. Tak ada keharmonisan lagi dirumahku, semua penghuni rumahku sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ayah, Mama dan aku putri semata wayangnya hanya bisa bertemu saat sarapan atau makan malam saja.
Sikapku makin menjadi. Bukan hanya bolos saja yang biasa aku lakukan, minuman dan narkoba sudah biasa aku konsumsi. Teler, bukan hal biasa lagi bagiku. Bahkan aku pernah pulang dalam keadaan teler alias mabuk berat.

Suasana rumahku yang luas benar-benar sepi. Tak seorang pun yang kutemui selain Inah pembantuku. Inah menggelengkan kepala, senyum getir menghiasi bibirnya “Non, kenapa jadi begini?” ucapnya sambil membopongku ke kamar. Bibirku tak dapat berkata, rasa teler memaksaku untuk terlelap.

Sikap jelekku tak kunjung reda, hingga sempat aku bertemu Ramlie saat aku dikejar polisi yang memergoki aku sedang pesta ganja. Entah apa yang terjadi bila tak ada Ramlie? Yang pasti aku sudah ada di dalam jeruji besi yang amat kumuh.

Aku memang bodoh! Kenapa aku tak berpikir panjang kalau orang yang ada dihadapanku adalah intel yang sedang memata-matai aku. Untung saja bertemu Ramlie! Walau sempat keki karena dia adalah laki-laki yang dipilih Ayah untuku. Tapi apa boleh buat? Aku kepepet.
Ramlie membawaku keapartemennya. Dia tahu, kalau aku pulang! Pasti aku akan kabur dan cari gara-gara lagi. “Duduk!” suruhnya tegas. Aku tak mau menurut, aku masih berdiri didepan pintu. “Kalu nggak mau, pulang saja!” tambahnya makin tegas.

Aku terpaksa nurut, duduk di sofa sambil menikmati teh hangat buatan Ramlie. “Luren, kamu tahu kalau sikap kamu keterlaluan? Asal kamu tahu, seharusnya kamu berpikir jernih dan tak pernah ikut mereka…..” sesaat dia terdiam. “Menjadi pemabuk dan pecandu adalah hal yang paling aku benci!” tambahnya .
“Kalu kamu benci, kenapa tolong aku?”
Aku memotong pembicaraan Ramlie. Aku kesal sekali, bisa-bisanya dia mermehkan aku! Ingin sekali aku membanting cangkir yang ada dalam genggamanku.

Ramlie hanya terdiam dan mulai menatapku.”Karena aku mennyayangi dan mencintaimu!” jawabnya simple.
PRANG
Kubanting cangkir yang aku genggam. Cinta? Aku paling benci dengan kata itu! Amarahku tak dapat aku tahan. Cacian dan kata-kata kotor mulai meluap-luap dari mulutku.
Blep..blep…blep…
Ponselku berdering. Ada yang telpon. Tanpa banya coment aku langsung mengangkat telponku. “Sayang, Ayah meninggal! Hik..hik..hik..” suara yang taka sing lagi bagiku. Mama. Aku tertegung mendengarnya. Setengah tak percaya. Nggak mungkin Ayah meninggal! Gumamku

Aku dan Ramlie segera pergi kerumah sakit. Kulihat tubuh Ayah terkujur kaku.kata mama ayah mengalmi kecelakaan lalu lintas saat pergi keluar kota untuk menemui client. Aku menjerit”Ayah………!!!” aku tak terima.

Ayah telah wafat. Kulihat mama sering melamun dan sakit-sakitan, kadang ibu lebih memilih mengurung diri dikamar. Aku tak kuasa melihatnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengajak mama bicara dan belanja. Mungkin dengan cara ini ibu bisa pulih. Dengan bantuan Ramlie, aku bisa mengembalikan mama menjadi mama yang ceria.

Bahkan yang paling parahnya, aku mulai sering menemui Ramlie. Entah apa yang terjadi padaku? Akhir-akhir ini aku susah tidur bila tak mendengar suaranya. “kamu nggak sibuk? Kok sering bangrt kesisi?” goda Ramlie saat melihat aku datang “Nggak suka? Ya, udah!” reaksiku langsung cemberut.aku segera beranjak dari rungan kerjanya. Namun, belum sempat aku out. Tangan Ramlie sudah melingkar ditanganku. Dia menriku kedalam pelukannya. “Jangan pergi, saying! Aku butuh kamu!” ucap dia manja. Aku berbalik kearahnya. Senyum manis mulai menyambut kedatangannya “Aku juga!” timpalku sambil melingkarkan tanganku kekepalany. Heum…..kami tersenyum bahagia.

Oleh : siti hasanah

Category: