Budaya memberi amplop uang pada kondangan pernikahan/khitanan

Kenapa ya kebanyakan kalau acara kawinan atau sunatan sebagai undangan kita dihadapkan pada budaya yang mengharuskan memberi amplop berisi duit yang dimasukkan ke dalam kotak yang disediakan atau langsung ke orangnya?

Orang memandang bahwa ngasih amplop itu wajib dan harus diberi tulisan nama kita sebagai pemberi agar orang itu tahu kita sudah memberi sesuatu kepadanya dengan besar uang sejumlah tertentu yang akan ia ketahui. Jadi sudah semacam absensi saja karena yang tidak bisa hadir bisa menitipkan amplop berisi uang kepada yang datang.

Budaya itu tidak hanya dilakukan orang yang ekonomi menengah ke bawah saja, tetapi juga oleh orang-orang berduit tebal. Seharusnya yang wajar adalah untuk kalangan menengah ke bawah saja yang melakukan budaya itu sebagai permohonan bantuan biaya resepsi tanpa ada budaya wajib untuk memberi apapun saat tamu datang ke acara undangan.

Pada jaman dulu setahu saya para tamu undangan perkawinan bebas memberi hadiah apa saja baik berupa uang, bingkisan, karangan bunga, kado, dan lain sebagainya. Namun ada trend di mana dalam kartu undangan ditulis "Dengan tidak mengurangi rasa homat kami, sebaiknya pemberian tidak dalam bentuk kado atau karangan bunga". Dengan begitu trend tersebut membentuk budaya baru di mana uang atau mentahnya saja adalah yang paling utama walaupun di kartu undangan tidak mencantumkan kalimat sakti tersebut.

Menurut saya sebaiknya budaya tersebut mulai diubah saja untuk kalangan menengah ke atas. Pada kartu undangan sebaiknya mengatakan bahwa tanpa menghurangi rasa hormat kami kedatangan dan doa restu anda adalah yang paling utama, kami tidak mengharapkan pemberian apapun dari bapak ibu sekalian.

Dengan begitu para undangan tidak dibebani oleh biaya datang ke acara kondangan baik kawinan, khitanan, kematian / nyelawat, dan lain-lain. Di kota besar umumnya dalam amplop isi uangnya sekitar 10 sampai 100 ribu rupiah. Bagi orang yang hidup pas-pasan uang sebesar itu sangat besar sekali dan belum termasuk ongkos pulang pergi. Bagi kalangan menengah atas pemberian umumnya sekitar 50 sampai 100 ribu atau lebih yang jika dihitung-hitung dalam satu kali datang plus ongkos / bensin bisa habis 100 sampai 200 ribu. Bila dalam sebulan ada beberapa banyak acara undangan resepsi maka tekor juga kita kalau gengsi dan memegang teguh budaya tersebut.

Post new comment

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
Kerjakanlah soal matematika di bawah ini sebelum memasukkan komentar untuk menghindari spam.
1 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.